Arsip Blog

Detail Mobil Murah Toyota Agya dan Daihatsu Ayla

Agya – Ayla

Agya-Ayla

Dua Mobil murah terbaru dari ASTRA menarik perhatian banyak masyarakat Indonesia. Dua duanya memiliki keunggulan dari sisi harga yang sangat murah juga hemat bahan bakar.

Walau Toyota Agya dan Daihatsu Ayla dikembangkan bersama dan menjadi produk kembar seperti halnya Avanza-Xenia dan  Rush-Terios. Namun bukan berarti Toyota Agya dan Daihatsu Ayla tidak meiliki perbedaan.

Perbedaan “Toyota Agya” dan “Daihatsu Ayla”ternyata lumayan jauh  dari sisi desain luar maupun fitur yang ada didalamnya.

daihatsu ayla

Beberapa Perbedaan Antara Toyota Agya dan Daihatsu Ayla:
Apa saja perbedaan antara Mobil Agya dan Ayla ? Kita simak perbandingannya dibawah ini

Kita tentunya tahu bahwa grill, bemper, dan fog lamp Toyota Agya dan Daihatsu Ayla berbeda dalam hal desain.

Beda Grill Toyota Agya dan Daihatsu Ayla
Toyota Agya grill memilih model smile yang elegant sedangkan Daihatsu Ayla memilih grill yang tinggi dari kap mesin hingga bemper bawah sehingga tampa sporty.

Perbedaaan Warna Agya dan Ayla
Walaupun keduanya mengeluarkan 6 pilihan warna yang sama namun untuk official color saat peluncuran keduanya memilih official color yang beda. Agya memilih Dark Blue metallic sedangkan Ayla menggunakan Light blue metallic.

toyota agya
Beda Logo Agya dan Ayla
Logo emblem Toyota Agya berdesain burung garuda berbingkai elips sedangkan pada Daihatsu Ayla berbentuk menyerupai huruf A berbingkai elips.

Pada emblem belakang, Toyota Agya menempelkan logo “Astra Toyota” sedang Daihatsu Ayla menempelkan logo “Astra Daihatsu”.

Fitur Daihatsu Ayla tidak dipasang airbag sedangkan Agya terpasang airbag.

Beda Harga Ayla dan Agya
Dari segi perbedaan harga Daihatsu Ayla dibanderol Rp.75 jutaan hingga Rp.105 jutaan. Sedangkan Toyota Agya belum diumumkan harga resminya namun bisa dipastikan harga Agya lebih mahal dari Ayla.

Dimensi
Mobil yang masuk ke segmen A ini memiliki dimensi sebagai berikut: panjang 3.580 mm, lebar 1.600 mm, tinggi 1.510 mm, dan jarak sumbu roda 2.730 mm. Nah, dibandingkan dengan segmen yang sama dan sudah dipasarkan di Indonesia, seperti Mitsubishi Mirage, Honda Biro, dan Nissan March, Agya dan Ayla menjadi yang paling kecil.

Namun, Mark sebagai perancang berhasil membuat kabinnya lebih luas dengan memperpanjang jarak sumbu roda depan dan belakang (wheelbase), bahkan menjadi yang terpanjang dibandingkan citycar yang dipasarkan di Indonesia saat ini, termasuk saudaranya asal Malaysia, Daihatsu Sirion

Mark, perancang muda yang dibanggakan oleh Astra (juga oleh Menteri Perdagangan), menjelaskan konsep rancangannya. “Hanya orang Indonesia yang tahu selera konsumen Indonesia. Saya membuat mobil dengan eksterior kompak, tetapi dengan kabin lega. Biaya produksi murah, tetapi bukan mobil murahan,” urainya.

Ditambahkannya, tidak banyak yang berubah dari A-Concept yang diperagakan di IIMS pada tahun lalu. Menurut Embay Sunaryo, kalaupun ada perubahan dari desain, hal itu disesuaikan dengan rekayasa untuk pembuatan komponen, material, dan target harga

Konsep kabin
Untuk mendapatkan kabin yang lega, Mark mendorong bagian bawah dasbor di depan penumpang dan pengemudi  ke arah depan. Alhasil, ruang kaki lega. Hal yang sama juga dilakukannya dengan menekuk bagian bawah jok pengemudi dan penumpang depan. Ruang kaki untuk penumpang belakang pun lega.

“Saya berusaha membuat shoulder di bawah kaca. Biasanya mobil yang dirancang di Jepang lurus saja. Dengan konsep saya, kabin jadi lega. Pengemudi dan penumpang bisa menaruh tangan di sandaran pintu,” urai Mark.

Ia juga mendesain agar dua semprotan pembersih kaca tidak berada pada kap mesin. Bahkan, kap mesin diusahakan tidak banyak tekukan dan hanya dibuat agar aliran udara lancar. “Seperti memanfaatkan streamline ketika mengikuti bus di belakang,” paparnya.

Tidak hanya kabin, ruang mesin juga lega. “Ini gampang diservis atau diangkat,” komentar wartawan saat melihat mesin Agya dan Ayla.
Untuk hal ini, menurut Embay Sunaryo, tim berusaha merancang mesin dengan serviceability yang mudah. “Ini mesin baru meski basisnya sama dengan yang digunakan pada Daihatsu Xenia 1.000 cc,” ungkap Embay.

Mesin yang digunakan berkapasitas asli 989 cc, berteknologi DOHC, tetapi belum VVT-i. Kemampuan menghasilkan tenaga 65PS (48 kW) @6.000 rpm dan torsi 8,7 kgm (85 Nm) @3.600 rpm.

Soal pembaruan yang dilakukan terhadap mesin, kalau biasanya menggunakan blok dari besi cor, sekarang mesin Xenia berbahan aluminium. Tutup kepala silinder juga diganti dari aluminium, dan kini dengan resin-plastik. Hasilnya, bobot mesin turun 10 kg. “Semua untuk efisiensi,” tambah Embay bersama stafnya.

Hal tersebut diperoleh karena mesin baru tidak lagi menggunakan saluran buang (exhaust) yang terdiri dari tiga pipa panjang. “Sekarang terintegrasi pada kepala silinder,” lanjut Embay sembari memperlihatkan sistem saluran buang mesin ini. Hasilnya, saluran buang lebih pendek, disatukan dengan tempat untuk katalisator (catalytic converter) dan tempat untuk sensor oksigen.

Para insinyur ADM belum sempat memperdengarkan suara mesin mobil ini. Namun diceritakan, pengujian sudah dilakukan dari Jakarta, sampai ke Jawa Tengah dan kembali ke Jakarta. Menurut Embay, hasil yang diperoleh memuaskan.

Namun ketika ditanya mengenai tes ekstrem yang telah dilakukan terhadap mobil ini, hal tersebut belum dijelaskan dengan gamblang. Kecepatan maksimum pun belum bisa dipastikan. Sementara itu, konsumsi bahan bakar yang ditargetkan 22 km per liter, dites di laboratorium mesin LIPI secara simulasi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.